Selat Sunda merupakan salah satu urat nadi ekonomi dan logistik paling vital di Indonesia, menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera serta menjadi jalur pelayaran internasional yang padat. Menyadari nilai strategis wilayah ini, Akmil Banten kini mulai memfokuskan studi dan latihan para tarunanya pada analisis mendalam mengenai stabilitas kawasan tersebut. Para calon perwira diarahkan untuk mampu melakukan analisis potensi gangguan yang mungkin muncul, baik dari aspek militer konvensional maupun ancaman non-tradisional. Hal ini penting dilakukan mengingat gangguan sekecil apa pun di Selat Sunda dapat berdampak sistemik terhadap distribusi kebutuhan pokok dan stabilitas keamanan nasional secara keseluruhan.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah memetakan berbagai jenis ancaman keamanan yang bisa mengganggu kelancaran arus barang dan manusia. Banten, sebagai titik tolak utama penyeberangan, memiliki kompleksitas kerawanan yang cukup tinggi, mulai dari potensi sabotase terhadap infrastruktur pelabuhan hingga ancaman perompakan di laut. Para taruna di Akmil Banten dilatih untuk menggunakan berbagai instrumen intelijen dan data geospasial guna memprediksi titik-titik lemah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak lawan. Dengan memahami pola lalu lintas kapal dan kerentanan garis pantai, para perwira masa depan ini diharapkan memiliki kesiapsiagaan operasional yang tinggi dalam merespons situasi darurat.
Salah satu poin krusial dalam kajian mereka adalah pengamanan pada jalur logistik yang melintasi perairan sempit tersebut. Di era modern, ancaman tidak lagi selalu berupa serangan terbuka, tetapi bisa berupa gangguan terhadap rantai pasok yang dapat menyebabkan kelangkaan pangan atau energi di wilayah tertentu. Oleh karena itu, simulasi pertahanan yang dilakukan di wilayah Banten mencakup perlindungan terhadap kapal-kapal tanker dan kapal kargo besar yang melewati Selat Sunda. Taruna diajarkan bagaimana berkoordinasi dengan instansi terkait seperti Bakamla dan Polairud untuk menciptakan sistem pengamanan terpadu yang mampu mendeteksi ancaman sejak dini sebelum memasuki area vital.
Selain aspek keamanan fisik, Akmil Banten juga mulai memasukkan unsur keamanan siber ke dalam analisis potensi mereka. Pelabuhan-pelabuhan modern di Selat Sunda kini sangat bergantung pada sistem manajemen digital untuk operasionalnya. Jika sistem ini diretas, maka seluruh aktivitas logistik bisa lumpuh total. Para taruna diberikan pemahaman dasar mengenai cara kerja sistem navigasi dan komunikasi pelabuhan agar mereka paham betapa pentingnya menjaga integritas data dalam sistem pertahanan wilayah. Langkah ini menunjukkan bahwa pemikiran militer di Banten sudah melangkah maju dengan mengintegrasikan ancaman fisik dan digital dalam satu kerangka kerja strategis yang utuh.