Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, keamanan dan kedaulatan maritim Indonesia sangat bergantung pada kemampuan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) untuk menguasai domain bawah laut. Di dunia yang senyap dan tak terlihat inilah bersemayam kekuatan strategis yang dijuluki “Hantu Laut Indonesia,” yang terdiri dari Kapal Selam dan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kehadiran Pasukan Katak dan armada kapal selam berfungsi sebagai efek gentar (deterrent effect) yang tak terlihat terhadap negara mana pun yang berniat melanggar kedaulatan perairan Indonesia. Kemampuan Pasukan Katak untuk beroperasi secara rahasia dan independen menjadikannya aset tak ternilai bagi keamanan nasional.
Kapal Selam: Senjata Strategis di Bawah Permukaan
Kapal selam adalah aset ultimate dalam pertahanan maritim, memberikan kemampuan serangan kejutan yang tidak dapat dideteksi.
- Pengintaian dan Intelijen (Surveillance): Kapal selam dapat beroperasi selama berminggu-minggu di perairan musuh tanpa terdeteksi. Mereka melakukan pengintaian maritim dan mengumpulkan intelijen penting mengenai pergerakan armada laut negara lain atau aktivitas ilegal. Informasi intelijen yang dikumpulkan oleh kapal selam sangat berharga untuk perencanaan operasi militer tingkat tinggi.
- Serangan Kejutan (Ambush Capability): Dilengkapi dengan torpedo dan terkadang rudal, kapal selam memiliki kemampuan untuk menetralisir kapal perang permukaan dan kapal induk musuh, membalikkan keadaan dalam konflik maritim. Armada kapal selam Indonesia, yang beroperasi di bawah satuan Komando Armada RI (Koarmada), menjalankan latihan operasional intensif di perairan timur Indonesia setiap kuartal, memastikan kesiapan tempur selalu terjaga.
Kopaska: Unit Elite Amfibi dan Infiltrasi
Komando Pasukan Katak (Kopaska) adalah unit elite TNI AL yang memiliki spesialisasi dalam pertempuran amfibi dan operasi bawah air. Kopaska dilatih untuk berbagai misi yang membutuhkan keahlian tempur di laut, pantai, dan darat.
- Penyerbuan Pantai (Beach Reconnaissance): Sebelum operasi pendaratan amfibi skala besar, tim Kopaska bertugas menyusup ke pantai musuh. Mereka melakukan pengintaian rahasia, membersihkan ranjau, dan memastikan pantai aman untuk pendaratan pasukan utama Marinir. Infiltrasi ini biasanya dilakukan pada malam hari atau dini hari, misalnya pukul 03.00 WIB, untuk menghindari deteksi.
- Anti-Teror Maritim dan Pembebasan Sandera: Kopaska memiliki detasemen khusus yang dilatih untuk menghadapi ancaman teror di laut, seperti pembajakan kapal tanker atau kapal pesiar. Mereka adalah unit yang bertindak sebagai first responder dalam skenario pembebasan sandera di anjungan minyak atau kapal.
- Perawatan Bawah Air: Selain tugas tempur, Kopaska juga bertanggung jawab atas tugas non-tempur vital, seperti perbaikan dan perawatan kapal perang yang berada di bawah garis air (waterline).
Proses pelatihan Kopaska terkenal sangat keras, meliputi kursus selam tempur, survival laut, dan Close Quarter Battle (CQC) di lingkungan maritim, menuntut tingkat disiplin dan kemampuan fisik yang melampaui standar prajurit reguler.