Kapal selam memainkan peran yang sangat vital dalam doktrin Strategi Pertahanan maritim modern Indonesia. Dalam konteks ini, kelas Nagapasa, hasil kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan, menjadi tulang punggung Kapabilitas Armada Senyap TNI Angkatan Laut (TNI AL). Kapabilitas Armada Senyap ini merujuk pada keunggulan taktis yang dimiliki kapal selam, yaitu kemampuan untuk bergerak dan beroperasi secara tersembunyi di bawah permukaan laut, menjadikannya aset deterrence (penangkal) yang sangat ditakuti. Mengamankan perairan kepulauan yang luas menuntut kehadiran platform bawah laut yang andal dan memiliki Kapabilitas Armada Senyap yang tinggi.
Kapal Selam kelas Nagapasa, yang memiliki bobot sekitar 1.400 ton dan panjang 61 meter, dilengkapi dengan sistem propulsi diesel-elektrik yang memungkinkannya menyelam hingga kedalaman operasional yang signifikan. Fitur kuncinya adalah sistem sensor dan sonar yang sangat sensitif, memungkinkan kapal ini mendeteksi pergerakan kapal permukaan maupun kapal selam lawan dari jarak jauh tanpa terdeteksi. Kapal ini mampu membawa torpedo berat dan meluncurkan rudal anti-kapal, memberikannya kemampuan offensive yang mematikan. Pengoperasian Kapal Selam Nagapasa, seperti KRI Nagapasa-403 yang ditugaskan di Komando Armada II, merupakan bagian integral dari upaya Modernisasi Alutsista TNI AL.
Strategi bawah laut TNI AL berpegang pada konsep Sea Denial dan Sea Control. Kapal selam diandalkan untuk melakukan misi reconnaissance (pengintaian) dan surveillance (pengawasan) di choke points strategis, seperti Selat Lombok dan perairan Natuna. Keberadaan Kapabilitas Armada Senyap di perairan ini memaksa kapal-kapal asing, baik militer maupun non-militer, untuk bertindak hati-hati, karena ancaman tembakan torpedo bisa datang dari mana saja tanpa peringatan. Hal ini secara efektif mendukung upaya Menyeimbangkan Kekuatan Militer di tengah meningkatnya aktivitas di Laut Cina Selatan.
Selain perannya dalam operasi militer, akuisisi Kapal Selam Nagapasa juga mencakup transfer teknologi yang signifikan. Pembangunan kapal selam ketiga dalam kelas ini dilakukan di galangan kapal PT PAL di Surabaya, yang merupakan capaian besar dalam kemandirian industri pertahanan Indonesia. Proses ini memberikan Tantangan Menjadi Pelatih baru bagi insinyur dan teknisi dalam negeri untuk menguasai teknologi bawah laut yang kompleks, memastikan keberlanjutan Kapabilitas Armada Senyap Indonesia di masa depan tanpa bergantung sepenuhnya pada pihak asing.