Semangat pemuda di wilayah Banten untuk mengabdikan diri melalui jalur Akademi Militer sangatlah tinggi. Banyak dari mereka memulai persiapan fisik jauh-jauh hari sebelum pendaftaran dibuka. Namun, ambisi yang besar sering kali tidak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup mengenai fisiologi olahraga. Banyak ditemukan kasus di mana calon taruna Banten melakukan program latihan mandiri tanpa pengawasan ahli, yang justru berakhir tragis pada bangsal rumah sakit. Ketidaktahuan akan teknik yang benar dan ambisi buta untuk mencapai target fisik secara instan sering kali menjadi akar penyebab munculnya berbagai jenis cedera permanen yang mematikan karier militer mereka sebelum sempat dimulai.
Salah satu kesalahan paling fatal yang sering dilakukan adalah penerapan beban latihan yang melonjak secara drastis dalam waktu singkat, atau yang dikenal dengan istilah overtraining. Banyak peserta merasa bahwa semakin banyak mereka berlari atau melakukan push-up, semakin cepat mereka akan siap. Padahal, otot, tendon, dan tulang membutuhkan waktu adaptasi yang spesifik untuk menahan beban yang lebih besar. Di wilayah Banten, sering dilaporkan kasus stress fracture atau retak rambut pada tulang kering akibat lari di permukaan keras dengan sepatu yang tidak memadai. Kesalahan dalam latihan mandiri seperti ini sangat sulit dideteksi di awal, namun jika terus dipaksakan, tulang dapat patah sepenuhnya dan membutuhkan intervensi bedah yang menyisakan trauma jangka panjang.
Selain itu, pengabaian terhadap fase pemanasan dan pendinginan menjadi kontributor utama robeknya jaringan lunak. Otot yang “dingin” bersifat kaku dan kurang elastis; ketika dipaksa melakukan gerakan eksplosif seperti sprint atau lompat, serat otot dapat mengalami robekan mikroskopis yang parah. Kesalahan teknis dalam gerakan dasar seperti sit-up yang terlalu membebani tulang punggung bawah juga sering memicu saraf terjepit (HNP). Kondisi ini adalah salah satu jenis cedera yang sangat sulit untuk pulih 100%, dan otomatis akan menggugurkan status kesehatan mereka dalam seleksi administrasi kesehatan militer yang sangat ketat.