Banten dikenal memiliki karakteristik geografis yang lengkap, mulai dari pesisir pantai yang berkarang hingga pegunungan dengan hutan yang sangat lebat dan lembap. Kondisi ini dimanfaatkan secara optimal oleh Akademi Militer untuk menyelenggarakan latihan survival yang menjadi salah satu tahapan paling menantang bagi para taruna. Kemampuan bertahan hidup dalam kondisi kritis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan sebuah ujian mental untuk melihat sejauh mana seorang calon perwira mampu mempertahankan kewarasannya saat berada di bawah tekanan rasa lapar, haus, dan ancaman predator alam liar tanpa bantuan alat modern yang memadai.
Dalam pelaksanaan latihan survival di wilayah Banten, para taruna seringkali ditempatkan di tengah hutan tanpa perbekalan makanan yang cukup. Mereka dituntut untuk mampu mengidentifikasi tanaman liar yang aman dikonsumsi dan tanaman yang beracun. Pengetahuan tentang botani dan biologi lapangan menjadi senjata utama mereka. Selain itu, mereka harus mahir dalam menjerat hewan kecil atau menangkap ikan dengan alat seadanya. Proses ini mengajarkan bahwa di medan perang yang sesungguhnya, logistik seringkali terputus, dan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya alam secara mandiri adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup hingga misi selesai.
Selain soal makanan, tantangan terbesar dalam latihan survival adalah pengadaan air bersih dan tempat berlindung (shelter). Di daerah hutan hujan seperti di Banten, kelembapan yang tinggi dapat menyebabkan hipotermia jika seseorang tidak mampu membuat perlindungan yang kering. Taruna dilatih membangun tempat berteduh menggunakan bahan-bahan alami seperti daun palem, bambu, atau semak belukar. Mereka juga diajarkan teknik memurnikan air menggunakan filter alami dari pasir, arang, dan kain, atau dengan teknik penguapan sinar matahari. Ketelitian dalam menjaga kondisi fisik agar tetap kering dan terhidrasi adalah kunci utama sebelum melanjutkan pergerakan taktis di dalam hutan.
Aspek navigasi manual tanpa bantuan GPS juga menjadi bagian tak terpisahkan dari latihan survival ini. Dalam kondisi kritis, perangkat elektronik bisa saja rusak atau kehabisan daya. Para taruna dididik untuk membaca pergerakan bintang, posisi matahari, serta tanda-tanda alam seperti pertumbuhan lumut pada pohon untuk menentukan arah mata angin. Kemampuan ini sangat krusial agar mereka tidak hanya “bertahan hidup” di satu tempat, tetapi mampu melakukan pelolosan dan pencarian jalan kembali ke garis kawan atau pangkalan terdekat. Kepercayaan diri yang muncul setelah berhasil menemukan jalan keluar dari hutan belantara membangun mentalitas juara yang tidak mudah menyerah pada keadaan.