Dalam upaya menjaga kedaulatan dan kemandirian bangsa, Indonesia semakin memprioritaskan kebangkitan industri pertahanan dalam negeri. Ketergantungan pada impor Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) secara bertahap dikurangi, digantikan dengan kemampuan produksi mandiri yang terus meningkat. Langkah ini bukan hanya tentang efisiensi anggaran, tetapi juga mengenai jaminan ketersediaan Alutsista, transfer teknologi, dan penguatan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kapabilitas riset dan pengembangan.
PT Pindad (Persero) menjadi salah satu garda depan dalam kebangkitan industri pertahanan Indonesia, khususnya untuk matra darat. Berbagai produk unggulan telah berhasil diproduksi, menunjukkan kemampuan Indonesia dalam membuat kendaraan tempur dan persenjataan. Contoh paling nyata adalah Tank Harimau (Modern Medium Weight Tank), hasil kolaborasi dengan FNSS Turki. Tank ini memiliki kemampuan tempur yang mumpuni dan dirancang untuk medan tropis Indonesia. Selain itu, kendaraan tempur Anoa (Armoured Personnel Carrier) yang serbaguna, senapan serbu SS2, dan pistol G2 Combat juga merupakan produk kebanggaan Pindad yang telah digunakan oleh TNI dan diekspor ke beberapa negara sahabat. Pada Pameran Industri Pertahanan Internasional Indo Defence 2024 di Jakarta, produk-produk Pindad mendapatkan banyak perhatian dari delegasi asing.
Di sektor maritim, PT PAL Indonesia (Persero) telah membuktikan kemampuannya sebagai produsen kapal perang. PT PAL telah berhasil membangun kapal fregat canggih seperti KRI Raden Eddy Martadinata (REM), yang merupakan bagian dari Sigma 10514 Class, melalui kerja sama dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding Belanda. Selain itu, PT PAL juga mampu membangun kapal-kapal patroli cepat, Landing Platform Dock (LPD), dan kapal selam, seperti KRI Alugoro-405 (Nagapasa Class), yang merupakan kapal selam pertama yang dirakit di dalam negeri. Pencapaian ini menunjukkan bahwa kebangkitan industri pertahanan Indonesia di sektor maritim semakin solid. Pada upacara serah terima kapal yang diadakan di Surabaya pada 12 Juli 2024, Kepala Staf Angkatan Laut menekankan bahwa kemampuan produksi PT PAL adalah wujud nyata kemandirian pertahanan maritim.
Untuk matra udara, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menjadi pemain kunci. PTDI telah lama dikenal sebagai produsen pesawat terbang yang memiliki keahlian dalam perancangan, pengembangan, dan produksi pesawat angkut militer. Produk-produk seperti CN-235 dan C-295 telah banyak digunakan oleh TNI dan juga diekspor. PTDI juga terlibat dalam program modernisasi pesawat yang ada serta potensi pengembangan pesawat tempur di masa depan, menunjukkan ambisi kebangkitan industri pertahanan di sektor kedirgantaraan. Dengan sinergi antara pemerintah, TNI, dan industri pertahanan dalam negeri, Indonesia bergerak maju menuju kemandirian Alutsista yang kokoh dan berkelanjutan.