Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 hanyalah permulaan. Setelahnya, bangsa Indonesia harus menghadapi periode perjuangan bersenjata yang dikenal sebagai Sejarah Perang Kemerdekaan (1945-1949). Pada masa kritis ini, Tentara Rakyat Indonesia (TNI)—yang saat itu masih berupa Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan kemudian Tentara Keamanan Rakyat (TKR)—berperan sentral, bukan hanya sebagai alat pertahanan militer, tetapi sebagai pembangun utama jati diri dan persatuan bangsa. Tanpa TKR/TNI, Republik Indonesia yang baru lahir mungkin tidak akan bertahan dari upaya Belanda untuk kembali berkuasa. Periode ini membuktikan bahwa semangat juang dan kemampuan berorganisasi kolektif adalah Kunci Dominasi dalam menghadapi kekuatan kolonial yang lebih terlatih dan bersenjata. Menggali lebih dalam Sejarah Perang Kemerdekaan mengungkap fondasi militer dan identitas nasional kita.
Transformasi dari Badan ke Tentara
Pada awalnya, badan pertahanan Indonesia dibentuk secara ad hoc. BKR didirikan pada 22 Agustus 1945, namun fungsinya adalah menjaga keamanan lokal, bukan sebagai tentara reguler. Realitas ancaman kembalinya Belanda (NICA) yang didukung Sekutu memaksa para pemimpin untuk bertindak cepat. Pada 5 Oktober 1945, Pemerintah mengeluarkan maklumat pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang menjadi cikal bakal TNI. Keputusan ini menunjukkan adanya pergeseran dari mempertahankan perdamaian ke persiapan konfrontasi militer skala besar. Struktur organisasi militer formal ini, yang menggabungkan veteran PETA, KNIL, dan laskar rakyat, adalah langkah awal dalam membangun profesionalisme dan jati diri TNI.
Periode ini diwarnai oleh serangkaian pertempuran besar yang membentuk mitos dan semangat juang bangsa. Salah satunya adalah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, di mana laskar rakyat dan TKR bertempur habis-habisan melawan pasukan Inggris. Meskipun kalah dalam hal persenjataan dan jumlah, pertempuran ini menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia siap berkorban demi kemerdekaan. Semangat patriotisme yang muncul dari Sejarah Perang Kemerdekaan inilah yang menyatukan beragam etnis dan kelompok di bawah satu bendera.
Agresi Militer dan Perang Gerilya
Titik balik dalam Sejarah Perang Kemerdekaan adalah Agresi Militer Belanda I (Juli 1947) dan Agresi Militer Belanda II (Desember 1948). Agresi kedua, yang ditandai dengan pendudukan Yogyakarta (saat itu ibu kota RI) dan penangkapan para pemimpin negara seperti Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, memaksa TNI menerapkan strategi baru: Perang Gerilya.
Di bawah kepemimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman, TNI meninggalkan pertahanan konvensional dan bersembunyi di hutan serta gunung. Perintah Soedirman adalah: “Prajurit tidak menyerah,” sebuah perintah yang dipertahankan bahkan ketika ia sendiri berjuang melawan penyakit TBC yang parah selama bergerilya di hutan. Strategi gerilya yang didukung oleh rakyat ini secara efektif melumpuhkan kendali teritorial Belanda, memaksa mereka menyebar dan menghadapi serangan mendadak di mana-mana. Puncak dari perlawanan ini adalah Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, sebuah operasi militer gabungan TNI yang berhasil merebut kembali kota itu selama enam jam, menunjukkan kepada komunitas internasional bahwa Republik Indonesia masih eksis dan memiliki tentara yang terorganisir. Aksi militer ini memperkuat posisi diplomatik Indonesia di PBB dan mempercepat pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949. Kekuatan Rebound semangat ini menjadi bukti ketahanan bangsa yang tak terpecahkan.