Di balik sosok gagah seorang prajurit yang berdiri tegak menjaga kedaulatan negara, terdapat kekuatan spiritual yang tak kasat mata namun memiliki dampak yang luar biasa besar. Kekuatan itu berasal dari lantunan doa yang dipanjatkan oleh seorang wanita yang paling berjasa dalam hidupnya. Di wilayah Banten, sebuah narasi emosional mengenai suara hati ibu menjadi topik yang sangat menyentuh bagi setiap keluarga yang anaknya sedang berjuang dalam seleksi militer. Bagi seorang ibu, melihat anaknya mengikuti seleksi Akademi Militer adalah sebuah kebanggaan sekaligus kekhawatiran yang mendalam. Namun, rasa takut itu dikalahkan oleh doa tak terputus yang ia kirimkan setiap sujudnya demi keberhasilan sang calon taruna Banten.
Bagi ibu-ibu di Banten, perjuangan mendukung anak tidak hanya berhenti pada menyiapkan makanan bergizi atau memotivasi latihan fisik pagi buta. Dukungan itu termanifestasi dalam tirakat dan puasa yang sering dilakukan demi kemudahan langkah sang putra. Mereka memahami bahwa seleksi Akmil bukan hanya soal adu otot dan otak, tetapi juga soal garis tangan dan restu Tuhan. Dalam setiap desah napasnya, sang ibu selalu menyelipkan permohonan agar anaknya diberikan kekuatan saat menghadapi ujian kesamaptaan yang menyiksa, diberikan kecerdasan saat mengerjakan soal akademik, dan diberikan kewibawaan saat berhadapan dengan tim penguji di tingkat pusat.
Suara hati seorang ibu sering kali berisi tentang pengorbanan yang tidak pernah ia ceritakan kepada anaknya. Ada ibu yang rela menyisihkan uang belanja demi membelikan sepatu lari yang layak bagi anaknya, atau ibu yang tetap terjaga hingga tengah malam hanya untuk menemani anaknya belajar tes psikologi. Di Banten, nilai-nilai religius yang kental membuat dukungan spiritual ini menjadi sangat dominan. Mereka percaya bahwa “ridho Allah ada pada ridho orang tua”. Oleh karena itu, sang ibu selalu berpesan kepada anaknya agar tetap rendah hati, jujur, dan tidak meninggalkan ibadah selama masa seleksi. Bagi mereka, menjadi taruna adalah pengabdian yang mulia, dan mereka ingin anaknya berangkat dengan hati yang bersih.