Zelensky Desak NATO Paksakan Perdamaian Adil Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky terus mendesak Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk meningkatkan tekanan pada Rusia. Desakan ini bertujuan memaksakan tercapainya “perdamaian yang adil” bagi Ukraina. Zelensky percaya, tanpa tekanan signifikan dari Barat, agresi Rusia tidak akan berhenti dan perdamaian sejati tidak akan pernah terwujud.

Dalam percakapan telepon dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada 21 Mei 2025, Zelensky menekankan pentingnya koordinasi semua keputusan. “Penting agar semua keputusan dikoordinasikan. Barulah sanksi akan bekerja,” kata Zelensky di aplikasi pesan Telegram. Tanpa tekanan pada Moskow, perdamaian adil tidak dapat dicapai, dan semua orang memahami ini.

Pernyataan Zelensky ini muncul setelah percakapan telepon antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 19 Mei 2025. Bagi Ukraina dan sekutunya, panggilan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi mengabaikan tuntutan Kyiv dan lebih condong pada kesepakatan yang menguntungkan Rusia.

Zelensky menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai harus menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina. Ia menolak keras proposal perdamaian yang dapat mengorbankan wilayah Ukraina, seperti pengakuan atas aneksasi Krimea. “Ini adalah wilayah kami, wilayah rakyat Ukraina,” ujarnya tegas.

Desakan ini menunjukkan bahwa Ukraina tidak akan menerima perdamaian dengan syarat-syarat yang dianggap menguntungkan agresor. Mereka ingin NATO menggunakan pengaruhnya untuk memastikan bahwa setiap negosiasi dilakukan dari posisi yang kuat, sehingga menghasilkan kesepakatan yang berkelanjutan dan adil.

NATO sendiri telah meningkatkan dukungan terhadap Ukraina, baik dalam bentuk bantuan militer maupun sanksi ekonomi terhadap Rusia. Namun, permintaan Ukraina untuk keanggotaan penuh NATO masih menjadi isu yang kompleks dan belum disetujui sepenuhnya oleh semua anggota aliansi.

Zelensky berharap NATO dapat lebih proaktif dalam “memaksa” perdamaian yang adil, bukan sekadar memediasi. Ia percaya bahwa kekuatan kolektif NATO dapat menjadi faktor penentu dalam mengakhiri perang dan mencegah agresi di masa depan, demi stabilitas Eropa dan dunia.

Situasi di Ukraina sendiri masih tegang, dengan serangan rudal dan drone yang terus terjadi dari Rusia. Desakan Zelensky kepada NATO adalah cerminan dari kebutuhan mendesak akan tindakan yang lebih kuat dari komunitas internasional untuk menghentikan konflik dan mengembalikan perdamaian.

Tulisan ini dipublikasikan di berita, Militer. Tandai permalink.